Upzis MD IAI Hamzanwadi Pancor Meyalurkan Bantuan Ke Urata Lombok Timur, Desa Madayin
Lombok Timur,23/11/2025. Pagi kami bersiap untuk penyaluran bantuan berupa al-Qur’an dan Iqra serta sembako yang berasal dari Donatur-donatur yang baik hati. Kita doakan semoga kesehatan dan rezekinya bertambah, amminn.
Setelah semua dating, kami pun berangkat dengan menggunakan mobi pickup, biasa kepunyaan kampus lengkap dengan bensin dan sopirnya. Perjalanan kali ini akan menempuh 2-3 jam perjalanan, kira-kira 60-an km dari pusat kota Lombok Timur, Selong. Kami pun tiba pukul 11.30 kemudian beristirahat sejenak di bawah pohon manga besar yang dibuat untuk berkumpulnya warga. Kami pun disambut dan diberkan alas tikar untuk duduk. Setelah itu kami pun mulai dengan penyaluran al-Qur’an dan Iqra di TPQ yang mana anak-anak sudah berkumpul.
Setelah penyaluran al Qur’an dan Iqra’, kami pun membagi diri untuk memberikan sembako di masyarakat sekitar yang memang benar-benar butuh sembako.
Di sela-sela saya istirahat, tiba-tiba saya melihat wanita paruh baya sedang menyuapi anaknya makan. Nama anak itu Salsabila, umurnya 9 tahun, katanya cacat dari kandungan, tubuhnya kurus, kaki dan tangannya kurus, dan tidak bisa melihat”. Kemudian ibu paruh baya itu pun bercerita kepada kami, “Salsabila, dia ini sebenarnya kembar, umur 9 tahun cuman berat badannya cuma 7 kilo”. “Sedangkan saudaranya yang lainnya normal”, Terus saya tanya lagi “ini sudah dibawa ke dokter belum?. “Sudah,”katanya. “Tetap rajin ke posyandu", sambil melanjutkan pembicaraan, “jadi sebelumnya itu memang dia normal, berat badannya itu normal”, katanya seraya memandangi kami. “Pernah terapi, katanya, tetapi bukan di dokter, hanya orang-orang keliling memeriksa kesehatan’, katanya lanjut menceritakan kepada kami. “Sehingga jadinya kayak gini”. “Jadi dia itu enggak melihat, enggak bisa jalan, enggak bisa ngapa-ngapain sudah, ngomong enggak bisa gitu, cuman bisa keluar suara nangisnya aja”, kata ibu paruh banya tersebut. “terus kalau makan tetap makan normal kayak orang biasa, kayak anak-anak biasa. Porsinya pun kayak anak-anak biasa, cuman badannya", seraya melanjutkan ceritanya.” Kemudian saya pun memberanikan diri bertanya, “Sudah di bawa ke dokter?. “Sudah”, jawabnya. “Sempat di rujuk ke RSUD tetapi, enggak mau ke sana, karena bapaknya itu trauma, khawatir dengan keadaan anaknya, jangan-jangan kayak gini lagi”, kata ibu paruh baya itu yang juga kader posyandu menjawab. Kemudian dengan nada berbisik ke saya, “Di sini, ada 10 disatbilitas, 14 stanting, 29 Jompo dan 15 anak yatim’, sambil menutup perjuampaan saya sambil bersalaman kami pamit untuk kembali ke Pancor.
Mudah-mudahan, kami bisa datang lagi dengan dengan menyalurkan bantuan dari para donator yang baik hati. Sambil salam-salaman dan melambaikan tangan sampai kejauhan.
Upzis Manakemen Dakwah
IAI Hamzanwadi Pancor