Upzis Manajemen Dakwah IAI Hamzanwadi Pancor Salurkan Al-Qur’an, Iqra’, dan Sembako ke Pelosok Lombok Timur

Pagi itu, udara Lombok Timur masih terasa sejuk ketika tim Upzis Manajemen Dakwah IAI Hamzanwadi Pancor bersiap untuk melakukan penyaluran bantuan. Bantuan berupa al-Qur’an, Iqra’, serta paket sembako ini berasal dari para donatur yang dengan tulus ingin membantu. “Semoga kesehatan dan rezekinya semakin bertambah,” begitu doa yang terus kami panjatkan untuk para donatur sebelum berangkat.

Setelah seluruh tim berkumpul, perjalanan pun dimulai. Menggunakan mobil pickup kampus lengkap dengan sopir dan bahan bakarnya, kami menempuh perjalanan sekitar 2—3 jam menuju sebuah dusun terpencil, berjarak kurang lebih 60 kilometer dari pusat Kota Selong. Jalanan berkelok dan beberapa bagian rusak tak mengurangi semangat kami untuk membawa amanah ini.

Sekitar pukul 11.30, kami tiba di lokasi. Sebuah pohon mangga besar menjadi tempat kami menepi, beristirahat sejenak, dan bertemu warga. Sambutan hangat mereka membuat lelah perjalanan seolah terbayar. Tikar digelar, percakapan ringan dimulai, dan keakraban pun tumbuh begitu saja.

Tak lama, anak-anak TPQ sudah berkumpul. Dengan ceria, mereka menanti pembagian al-Qur’an dan Iqra’. Kami memulai penyaluran, satu per satu buku itu berpindah tangan, disambut senyum polos anak-anak yang tampak antusias belajar mengaji. Suasana haru dan bahagia terasa kuat saat mereka memeluk buku-buku itu seolah memegang harta berharga.

Selesai dari TPQ, tim pun membagi diri untuk menyalurkan paket sembako kepada warga yang benar-benar membutuhkan. Kami menyusuri rumah-rumah sederhana, berbincang dengan warga, dan mendengar banyak cerita kehidupan yang penuh perjuangan.

Di tengah istirahat, sebuah pemandangan membuat langkah saya terhenti. Seorang ibu paruh baya tengah menyuapi anaknya yang duduk lemah di pangkuannya. Bocah itu bernama Salsabila, berusia 9 tahun. Tubuhnya kurus, kaki dan tangannya kecil, dan matanya tak mampu melihat dunia di sekelilingnya.

Sambil terus menyuapi, sang ibu bercerita. “Salsabila ini sebenarnya kembar. Umurnya 9 tahun, tapi berat badannya cuma 7 kilo,” tuturnya lirih. Saudara kembarnya tumbuh normal, namun tidak dengan Salsabila.

Ia melanjutkan kisahnya, “Dulu sebenarnya dia normal, berat badannya normal. Baru setelah itu dia mulai berubah…” Sang ibu sempat membawa Salsabila ke dokter, bahkan melakukan terapi, meski bukan terapi medis melainkan pemeriksaan oleh orang-orang keliling. Namun kondisi Salsabila terus menurun hingga kini tak mampu bicara, tak bisa berjalan, dan hanya mampu mengeluarkan tangis.

“Pernah dirujuk ke RSUD,” katanya. “Tapi bapaknya trauma… takut jangan-jangan nanti keadaannya tambah parah.” Suaranya bergetar, namun ia tetap berusaha tegar.

Sambil berbicara, ibu itu berbisik lagi kepada kami, seakan menumpahkan beban yang lama dipendam. “Di sini ada 10 disabilitas, 14 anak stunting, 29 jompo, dan 15 anak yatim.” Angka yang mengingatkan kami bahwa masih banyak yang membutuhkan uluran tangan.

Pertemuan kami berakhir dengan saling bersalaman. Ada harapan yang menggantung di mata mereka—harapan agar kunjungan seperti ini tak berhenti sampai di sini.

Kami pun berpamitan, melambai hingga sosok-sosok itu mengecil di kejauhan. Dalam hati, kami membawa tekad kuat: semoga Upzis Manajemen Dakwah IAI Hamzanwadi Pancor dapat kembali lagi membawa bantuan, harapan, dan senyum baru untuk mereka.

Upzis Manajemen Dakwah
IAI Hamzanwadi Pancor

Bagikan artikel ini:

Facebook WhatsApp